Melihat Dunia dari Perspektif Lain

Dimanakah lingkungan social tempat kita berasal ?

Adakah lingkungan social lain selain lingkungan sosial yang kita tinggali?

Lingkungan social apa yang kau dapati?

Mengapa bisa ada lingkungan social yang berbeda ?

Siapakah diri kita saat ini?

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Kata orangtua dulu ITB ini merupakan miniaturnya Indonesia, karena semua putra-putri bangsa dari Sabang sampai Merauke berkumpul disini untuk melanjutkan Studi di perguruan tinggi “terbaik bangsa” dan juga murah sehingga masalah keuangan bukanlah hambatan dalam melanjutkan studinya. Sekarang jaman sudah beda uang kuliah sudah tinggi dan sama dengan univesitas swasta. Sehingga bisa dibilang bahwa secara umum perekonomian mahasiswa yang kuliah disini sudah dalam kondisi mapan.

Sebenarnya ini merupakan masalah bagi kita semua karena dengan samanya tingkat prekonomian mahasiswa ITB maka kita sudah berada di dunia kampus yang lingkungannya sama. Dengan keadaan ini maka kita jadi manusia yang satu dimensi. Yang walaupun secara pengetahuan kita memiliki akses yang lebih dan juga pengetahuan yang lebih dibanding orang lain, tapi kita sense social kita semakin tumpul karena tidak adanya lingkungan social pembanding lain yang ada didepan mata kita. Sifat kita mengikuti lingkungan kampus yang tunggal tersebut (Sifat dalam artian budaya dan pola pikir).

Budaya kita menjadi budaya MTV, dimana segala sesuatu diatur oleh tren yang ada di dunia pertelevisian. Dikenallah kalimat “Man baju seperti ini lagi ngetren di tv”; “ Kalau gak pakai ini gak gaul ” dan masih banyak lagi. Memang ada juga yang tidak mengikuti tren lingkungan social yang tunggal ini, sebagian karena memang menganggap itu tidak penting sebagian lagi karena memang tidak mampu. Seperti kutipan lagu Dewa “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi” mereka akan jadi orang yang merasa terasing dilingkungan social ini.

Pola pikir yang terbentuk dikepala kita juga sudah didoktrin (pendapat subyektif pribadi) oleh orangtua, rektorat dan lain-lain. Dari orangtua mungkin “Bagus-bagus kau belajar ya nak jangan salah bergaul kau disana nantinya, jangan pikiri yang lain ya ”. Dari Rektorat sewaktu sidang terbuka

“Kita harapkan bersama bahwa orientasi prestasi semakin menjadi warna utama dalam kegiatan kemahasiswaan ini…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Kita harapkan bersama bahwa orientasi prestasi semakin menjadi warna utama dalam kegiatan kemahasiswaan ini.”

Dari dosen yang mengajar sewaktu kita kuliah “Belajarlah dengan baik serius supaya nanti bisa masuk CHEVRON, CALTEX, FREEPORT, EXXON mobile , bla bla…”. Semuanya itu adalah contoh-contoh pembentukan pola pikir yang ada ketika kita mencapai kampus ini. Itu semua tidak salah, mungkin mereka hanya ingin memberikan yang terbaik pada kita semua. Pertanyaannya apakah kita akan menerima begitu saja segala sesuatu yang suapkan kemulut kita?

Apakah ada lingkungan social yang lain dari lingkungan social kita saat ini ? Jawabannya ada dan kita semua pasti menyadarinya, tapi kenapa kita tidak memperdulikannya? Karena kita jarang bahkan tidak pernah berinteraksi dengan lingkungan social yang lain tersebut.

Lingkungan social lain itu bisa saja lingkungan social upper class atau lingkungan social lower class (Dari sisi ekonomi). Adakah yang harus kita analisis dari masing-masing lingkungan tersebut ? sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual kita sudah seharusnya menganalisis lingkungan tersebut.

Pertama lingkungan social upper class. Berangkat dari teori ilmu ekonomi yang diajarkan pada kita selama disekolah dikatakan bahwa kebutuhan manusia tidak ada batasnya, maka wajarlah jika lingkungan social ini merupakan lingkungan social yang paling banyak mengkonsumsi, ditambah lagi mereka merupakan orang berada sehingga cendrung konsumtif terhadap produk-produk yang dihasilkan. Apa masalahnya ? Kalau kita mellihat dalam skup “Negara Indonesia” maka kita bisa melihat bahwa budaya konsumtif mereka bermasalah. Kita tahu bahwa sebagian besar produk yang berada dipasaran Indonesia merupakan produk dari perusahaan luar negeri yang memiliki modal besar dan akan mempromosikan produk mereka dengan berbagai cara, seperti lewat media periklanan, dengan menciptakan kesan elite pada produknya (ketika orang menggunakan), menciptakan kesan keren pada produknya (ketika orang lebih memilih Nike daripada Bata, membeli produk Quiksilver, Spiderbilt, dll) , memegang ikon tertentu (Orang lebih memilih Pepsi daripada Teh Botol karena David Beckham). Secara Makro kita akan melihat bahwa sejumlah besar uang telah mengalir dari kantong- kantong mereka keluar negeri, dan ini semua merugikan Negara.

Kedua ialah lingkungan social lower class, mereka merupakan golongan orang yang hanyut dibawa zaman. Dinegara kita mereka ialah Petani, Buruh kasar,Pengemis dan lain lagi. Dalam hal ini saya hanya akan menerangkan tentang buruh karena berkenaan dengan kegiatan kita sekarang. Mereka seperti orang yang tersisihkan ditengah-tengah majunya peradaban manusia. Mereka tidak bisa menikmati teknologi dunia karena minimnya akses informasi dan perekonomian yang dibawah standard hidup yang layak.

Sekarang kita beralih dan mulai memandang lingkungan-lingkungan social itu secara holistic,sebagai satu kesatuan. Semenjak awal peradaban manusia lingkungan social sudah mulai terbentuk. Mulai dari zaman food gathering, dimana lelaki mencari makanan, sementara wanita mengurus pekerjaan rumah dan anak, lalu ke zaman feodal dimana terdapat tuan tanah dan terdapat kaum yang menggarap tanah (budak). Sampai pada zaman ketika revolusi industry berkobar di Inggris yang tanpa memerlukan waktu cukup lama merambah dunia secara global. Pada zaman ini pola lingkungan social ialah antara kaum yang memiliki alat-alat produksi (kaum kapitalis), dan modal dengan kaum yang tidak memiliki apa-apa kecuali tenaga yang akan dijual (kaum proletar) kepada kaum kapitalis . Disinilah awal ketimpangan lingkungan social terjadi. Kapitalisme berdiri diatas landasan teori Adam Smith yang menjunjung tinggi kebebasan dan individualism. Adam Smith berpendapat bahwa suatu system akan maksimal apabila tiap anggota didalam system tersebut berbuat untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Berlandaskan teori ini maka kaum kapitalis melegalkan terjadinya eksploitasi manusia oleh manusia. Mereka berkilah bahwa buruh bisa saja menolak pekerjaan tersebut jika tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Karena pada dasarnya setiap buruh tersebut diberi kebebasan untuk menentukan apakah dia akan mengambil pekerjaan terdebut atau menolaknya jika tidak sesuai dengan yang dinginkannya Tapi kenyataan mengatakan bahwa lapangan pekerjaan yang tersedia tidak pernah mencukupi untuk menampung semua tenaga kerja produktif yang tersedia di pasar – Ini karena tidak seimbangnya jumlah lapangan pekerjaan yang bertambah tiap tahunnya disbanding dengan angkatan kerja yang diproduksi oleh badan-badan pendidikan sehingga mengakibatkan persaingan di bursa tenaga kerja semakin ketat -. Jadi untuk keadaan sampai detik ini yang namanya kebebasan untuk kaum buruh sebenarnya hanyalah utopia belaka, kebebasan yang diberikan oleh kaum kapitalis adalah kebebasan semu. Karena apa ? Upah yang diperoleh dari pekerjaannya sebagai buruh merupakan sumber pendapatan untuk menutupi biaya yang diperlukannya dalam memenuhi kebutuhan primernya (kebutuhan primer ialah sandang, pangan , papan).

Kita adalah mahasiswa, yangmana masih bisa berpikir secara bebas dan seharusnya bisa meminimalisir pengaruh dari kepentingan-kepentingan eksternal tertentu, belum memikirkan biaya hidup (secara umum masih ditanggung orangtua). Untuk itu, dengan pengetahuan yang kita peroleh dari pendidikan tinggi, kita seharusnya mulai berpikir bagaimana caranya untuk membuka sendiri lapangan kerja untuk diri kita sendiri bahkan akan lebih baik jika kita mampu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Jangan biarkan orang lain menjadi pengangguran karena kita mengambil lapangan pekerjaan mereka, ketika kemampuan kita memungkinkan kita untuk berbuat lebih daripada sekedar menyodorkan transkrip nilai untuk melamar kerja.

Tulisan ini dibuat bukan untuk melakukan justifikasi apapun, tulisan ini dibuat untuk memberikan perspektif berbeda agar kita sebagai mahasiswa tidak selalu dan terus-menerus mengikuti arus pola pikir dunia.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.