Toto-chan, Gadis Cilik di Jendela

22 01 2010

Buku ini merupakan cerita non-fiksi dan  menceritakan tentang masa kecil si penulis (Tetsuko Kuroyanagi). Bercerita tentang masa lalunya yang berkisar antara tahun 1930-an sampai 1940-an akhir.

Buku ini bercerita tentang kisah seorang siswi kelas 1 yang memiliki  rasa ingin tahu yang besar terhadap  segala sesuatu yang baru. Dia dikeluarkan oleh kepala sekolahnya karena dia selalu berdiri di samping jendela kelas dan melihat keluar pada jam pelajaran sekolah. Dia juga sering memanggil pemusik-pemusik jalanan yang kebetulan terlihat olehnya dan mengajak bicara burung-burung yang bertengger di dahan pohon di dekat jendela kelasnya. Semuanya itu dilakukan ketika sedang jam pelajaran.

Namun Toto-chan tidak tahu kalau dia dikeluarkan dari sekolah yang lama, ibu hanya berkata padanya bahwa dia akan pindah ke sekolah yang baru. Disekolah yang baru inilah semua kesenangan, keingintahuan, persahabatan, kepedulian, dan penghargaan terhadap anak-anak yang sedang berkembang secara mental dan fisik benar-benar di eksplorasi oleh Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen, yang merupakan sekolah baru Toto-chan.

Disekolah yang baru ini Toto-chan akan banyak melakukan aktivitas hariannya baik itu yang suka maupun duka,. Ditambah lagi kehebatan penulis yang bisa membuat kita membayangkan ekspresi Toto-chan ketika dia memikirkan sesuatu ataupun  melakukan sesuatu.

Disekolah ini pelajaran tidak sekaku pelajaran yang ada di sekolah lain yang ada di jepang dan di Indonesia sekarang tentunya.  Guru akan menuliskan mata pelajaran yang akan dibahas hari ini lalu para murid akan memilih  mata pelajaran yang disukainya dan segera mendalami mata pelajaran yang digemarinya itu. Karena semua siswa menggeluti mata pelajaran yang dia sukai maka disekolah ini tidak ditemukan siswa yang acuh tak acuh di kelas. Guru-guru juga tidak tinggal diam didalam kelas, tapi menjadi tempat diskusi dengan siswa jika ada siswa yang tidak mengerti tentang mata pelajaran yang sedang digelutinya.

Jika anda berpikir “Wah… Sekolah seperti ini pasti sulit mengontrol siswa-siswanya,” maka kepala sekolah Tomoe ini mengontrol jumlah siswa disekolah itu supaya perkembangan siswa-siswanya bisa dimonitor.

Siswa  dan siswi disekolah ini juga sering berjalan-jalan  mengelilingi daerah disekitar sekolah. Selama perjalanan ini mereka tidak hanya berjalan-jalan saja tapi juga diajari untuk mengenal alam sekitar mereka. Jika mereka melihat  bunga yang dihinggapi kupu-kupu maka guru akan menjelaskan tentang interaksi antara kedua makhluk hidup itu dan simbiosis yang terjadi diantaranya. Jika mereka melihat bangunan bersejarah,  guru mereka akan menjelaskan terntang sejarah bangunan tersebut.

Bapak Kobayashi, kepala sekolah Tomoe, merupakan roh dari sistem pendidikan di sekolah Tomoe Gakuen. Dia bisa membuat makan siang menjadi ajang bagi siswa-siswanya untuk menghilangkan rasa malu . Olah raga menjadi ajang untuk menghilangkan rasa rendah diri dan lainnya.Tapi yang menurut saya paling hebat adalah yang satu ini – Pernahkah anda berpikir untuk menanamkan rasa tanggungjawab kepada siswa SD -sekolah dasar- mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 tanpa pernah marah kepada siswa tersebut …??

Well, he did it…(sekali-kali agak British gak papa lah ya… )

Bapak Kobayashi percaya bahwa semua anak pada dasarnya baik, namun lingkunganlah yang  mempengaruhi anak. Karenanya Kobayashi  mengatakan untuk tidak membiarkan orang dewasa  mengintervensi perkembangan anak, tapi biarkan anak tersebut mengembangkan kepribadian mereka secara alamiah  dengan demikian  kreativitas akan muncul.

Ucapan yang paling saya ingat  dari Bapak Kobayashi adalah :

“Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati, tapi tidak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar”

Mungkin anda belum mengerti maksud ucapannya, mungkin dengan  kalimat ini akan mengerti :

James Watt dan Isaac Newton pasti bukan satu-satunya orang yang melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya apel dari pohon…

Buku ini membuat saya  sadar bahwa banyak hal yang seharusnya menjadi tempat belajar dan tempat melepas rasa penasaran bagi anak-anak namun semuanya itu terpancung dibawah jargon  “jangan itu berbahaya!”; “jangan, kau belum mengerti apa yang kau lakukan!” dan jargon-jargon lainnya.

Secara umum buku ini menceritakan tentang pengalaman yang dialami seorang Toto-chan  yang mendapat pendidikan di sekolah  dengan kurikulum pendidikan yang tidak konvensional dan bagaimana pendidikan yang diterimanya berdampak pada perkembangan dirinya dan bagaimana dia berinteraksi dengan sekelilingnya. Sebuah kurikulum yang berusaha sebaik mungkin mendidik anak-anak melalui pendekatan yang berbeda,yang berusaha tidak mengintervensi perkembangan anak secara alamiah, dan bukan dengan pendekatan yang menekankan pada kata-kata tertulis, dan cenderung membuat anak-anak seperti sebuah produk, maksudnya adalah pendidikan sekarang cenderung menganggap bahwa anak-anak seperti secarik kertas putih, tidak punya apa-apa, dan tidak bisa apa-apa, dan lupa bahwa sebenarnya anak-anak  memiliki semuanya itu. Seharusnya pendidikan membuat mereka memunculkan potensi itu, bukannya memaksa mereka mengembangkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sukai.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.